Indro's profileKOLOM KANG INDROPhotosBlogListsMore ![]() | Help |
KOLOM KANG INDROgimana nih |
|||||||||||
|
Link-Link Pencerahan
|
May 11 MENGGALI SUMUR-SUMUR CINTAOleh: Gede Prama
Dulu, seorang sahabat yang amat bijak pernah bertutur sopan ke saya, “hidup”, kata dia sambil menelan ludah perlahan, “tidaklah perlu terlalu hebat dan cepat”. Tentu saja saya yang masih amat muda ketika itu, dan amat silau dengan gemerlap kehidupan orang-orang atas, protes dengan pesan alon-alon waton kelakon ini. Seperti tidak perduli dengan pesan sahabat tadi, saya lanjutkan saja menancap gas mobil kehidupan. Memang, sempat menyentuh “langit karir” yang didambakan banyak orang.
Sekian tahun setelah pesan di atas berlalu, dan saya sudah demikian lelah dengan perjalanan yang berjalan cepat, suara lembut teman di atas terdengar lagi di telinga. Ada bagian akhir dari pesan sahabat di atas yang masih tertulis rapi dalam memori: “puncak kehidupan tercapai ketika kita amat bahagia menjadi orang biasa”.
Ingin rasanya memeluk sahabat lama tadi dalam dekapan dada erat-erat. Sayangnya kami dipisahkan jarak ribuan kilometer. Sehingga, hanya jembatan-jembatan renungan dan kontemplasilah yang bisa menghubungkan suara-suara rindu saya pada sahabat yang bijaksana sejak umur yang amat muda ini. Sadar akan dalamnya renungan ini, pelan dan perlahan setir kehidupan saya putar ke arah yang lain. Arahnya, mungkin akan terus menelusuri bekas-bekas langkah yang pernah dilalui orang-orang seperti Jalaluddin Rumi, Hazrat Inayat Khan, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Rabindranath Tagore dan manusia-manusia sejenis. Saya tidak bercita-cita, apa lagi berjanji – akan bisa sehebat mereka, karena bekas-bekas jejak kaki orang-orang ini banyak sekali ditulisi kata-kata ikhlas, ikhlas dan ikhlas.
Disamping itu, kata lain yang amat terang tertulis dari jejak-jejak kaki manusia mengagumkan ini adalah kata cinta. Cinta bahkan menghiasi hampir seluruh jejak-jejak kaki ini. Oleh karena alasan inilah, maka sudah cukup lama saya membiasakan diri untuk menulis, melihat, merasakan, memegang, memeluk, membaui rasa cinta di manapun badan ini berada. Benar seperti yang pernah ditulis Jalaludin Rumi, dalam cinta kita bisa merasakan kehadiran Tuhan di Masjid sahabat-sahabat Muslim, di Gereja teman-teman Nasrani, di Vihara orang-orang Buddha, di Pura-nya orang Hindu, dan bahkan di setiap tempat di mana kita hadir.
Pengalaman yang mau saya bagi dengan Anda, semakin cinta itu kita dekati dan kita peluk, semakin banyak godaan yang muncul. Seperti sedang bertutur ke kita, mendalami cinta sebenarnya mirip dengan menggali sumur. Di tempat-tempat yang dangkal, kita menemukan lumpur. Akan tetapi di tempat yang dalam, itulah tempat di mana kejernihan dan kesejukan bersembunyi.
Seperti sedang mendidik dan mengajari saya, kehidupan saya bertutur di sumur-sumur tertentu saya bertemu banyak lumpur. Di segelintir sumur yang lain, ada kejernihan dan keheningan. Di dua tempat di mana saya pernah dipercayai menjadi komandan perusahaan, ada banyak lumpur yang sempat membuat diri ini megap-megap. Demikian juga ketika belajar mencintai keluarga sehari-hari. Ketika baru saja memberikan hadiah kepada isteri tercinta, tiba-tiba hadiah tadi hampir saja membuat nyawanya melayang. Tatkala menyenangkan anak-anak terbang bersama saya ke sebuah tempat indah lengkap dengan fasilitas eksekutifnya, ada saja godaan-godaan yang bisa memancing rasa marah. Dulu, ketika ayah dan Ibu masih hidup saya beberapa kali mencoba mengekspresikan cinta. Dan berapa kalipun cinta itu mau diekspresikan, sebanyak itu juga godaan-godaan muncul.
Seperti bercerita tentang keseimbangan yang sempurna, sang kehidupan juga pernah menghadiahkan sumur-sumur dalam yang menghadiahkan kejernihan di tempat lain. Sebagai penulis, ada banyak sekali orang yang mengungkapkan empatinya. Sebagai pengisi acara di beberapa radio, ada banyak sekali pendengar yang menitikkan air mata syukur setelah mendengarkan saya. Di sebuah penghujung tahun, radio Female Jakarta mengirimkan sekuntum bunga dengan sangat sedikit kata-kata. Seperti mau mengatakan, cinta memang tidak untuk diungkapkan lewat kata-kata. Sebagai pembicara publik, ada saja orang yang menyentuh hati saya.
Mirip dengan sumur-sumur kehidupan banyak orang, demikianlah sumur-sumur saya. Di sekumpulan sumur, masih bertemu lumpur. Di sekumpulan sumur lain, sudah ada tanda-tanda kejernihan. Semua ini seperti mau berbicara ke Anda dan saya, teruslah menggali sumur-sumur cinta. Lumpur memang hanya sekadar sasaran antara. Namun, ia menuntut satu hal yang tidak bisa ditawar: “ketekunan untuk terus menggali, menggali dan menggali”.
Ketekunan untuk terus menggali inilah yang ada di kepala ketika banyak godaan hidup kembali muncul dalam kualitas dan kuantitas yang jauh lebih besar dari biasanya. Baru memimpin perusahaan raksasa beberapa bulan saja, sudah dihadang tembok kehidupan yang tidak memberikan alternatif lain terkecuali harus mundur. Baru saja menarik nafas lega di puncak perusahaan swasta, ada angin godaan yang meniup saya bersedia turun.
Banyak sahabat mengira saya lagi bersedih ketika ditiup angin kehidupan untuk turun. Sayangnya tebakan itu keliru. Karena telah lama saya mendidik diri untuk tersenyum baik ketika naik maupun ketika turun. Demikian juga ketika menggali sumur-sumur cinta. Tidak ada janji dari sang kehidupan, kapan bertemu air jernih. Yang jelas, tugas kita hanya satu menggali, menggali dan hanya menggali. Begitu kita bertemu satu sumur kejernihan, kitapun diwajibkan untuk menggalinya lagi di tempat lain.
** Jalan menuju kebahagiaan terletak pada dua prinsip sederhana: temukan apa yang menarik untuk Anda dan dapat Anda kerjakan dengan baik. Dan ketika anda menemukannya, kerahkan segenap jiwa, setiap energi, ambisi dan kemampuan alamiah yang Anda miliki ke dalamnya. ~(John D.Rockefeller)~ Kebahagiaan hanya bisa diraih dengan membuat orang lain bahagia. ~(Stuart Cloete)~ ** Warm Regards,
INDRO PURWOKO MIS Manager - Operation ERP SAP | PT. APL Indonesia (A Zuelligpharma Group)| www.zuelligpharma.com | Pharmaceutical Distributor Professional Profile: http://www.linkedin.com/in/indropPublic Profile: http://indropurwoko.spaces.live.com BERLIAN DAN BAU BUSUKOleh: Gede Prama
Ketika Jack Welch menjadi nara sumber seminar di Jakarta, seorang peserta bertanya, bagaimana ia bisa mengelola gurita usaha yang demikian besar dan berhasil. Entah ia rendah hati, entah benar-benar seperti itu keadaannya, salah satu CEO terkemuka dunia ini berujar, tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sebesar itu seorang sendiri. Bahkan, diapun tidak sanggup melakukannya. Ia melakukan semua pekerjaan besar ini, bersama-sama orang-orang terbaik yang dimiliki General Electric. Oleh karena alasan terakhirlah, maka setiap kali Welch berjalan-jalan keliling dunia, ia selalu mencari orang-orang terbaik.
Bila benar demikian, rupanya salah satu kunci keberhasilan dalam mengelola gurita usaha yang demikian meraksasa, adalah mencari dan memilih orang yang tepat. Sebagaimana pernah saya tulis, begitu orang-orang berada di tempatnya yang tepat, mesin organisasi akan hidup dan lari cepat dengan sendirinya.
Persoalannya sekarang, bagaimana kita bisa menemukan orang-orang tepat ini dalam keseharian? Sebagai orang yang telah lama malang melintang membantu klien di sektor SDM, serta bergaul luas dengan banyak sekali rekan psikolog yang berjam terbang tinggi dalam memilih orang, saya sampai pada kesimpulan: “Memilih orang bukanlah perkara yang mudah. Lebih-lebih memilih orang potensial, sekaligus tepat di posisinya serta berkinerja tinggi.”
Seringkali terjadi, mencari orang seperti menanam pohon. Ketika bertemu bibit yang tepat, lahannya kurang mendukung. Kadang terjadi, karena tidak ada pilihan, terpaksa memilih bibit yang kurang memadai. Akan tetapi, karena lahannya subur, maka berkembanglah sang bibit secara meyakinkan. Idealnya memang, bibitnya baik dan lahannya subur.
Sayang kehidupan nyata jarang dalam kondisi ideal. Satu ketika, saya pernah menemukan seorang manajer dengan potensi yang tinggi, sekaligus memiliki kemampuan interaksi yang mengagumkan. Namun, bertemu dengan lingkungan pemilik dengan gaya “memiliki” karyawan. Di mana pekerjaan pribadi dicampur dengan pekerjaan kantor, tidak mengenal hari libur, ketika harus berkumpul dengan keluarga mendadak dipanggil. Maka larilah calon potensial tadi entah kemana.
Belajar dari sini, mampu menggaji orang tidak otomatis bisa membuat orang dan organisasi berkinerja tinggi. Ada faktor kedua setelah mampu menggaji, yakni kemampuan untuk menggunakan sang calon. Tanpa kemampuan terakhir, keadaan hanya akan menyerupai bibit unggul yang ditanam di atas batu kering.
Di sinilah letak kelalaian banyak orang berduit. Punya uang tetapi tidak bisa menggunakan orang secara tepat dan pas. Ujung-ujungnya, kadang konsultan yang disalahkan, kerap alat test yang dianggap keliru, psikolog dikatakan kurang kompeten. Lebih-lebih kalau “lahan kering” tadi bertemu dengan kebiasaan tidak sabar untuk sedikit-sedikit memecat orang.
Padahal, mencari orang berbakat sekaligus cocok dengan kita lebih mirip dengan mencari berlian, dibandingkan dengan mencari sumber bau busuk. Mencari berlian memerlukan waktu, ketekunan, kesabaran dan tidak jarang malah membutuhkan pengorbanan. Namun mencari sumber bau busuk, ia relatif lebih mudah.
Ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan dan pengusaha. Ia juga berlaku pada pribadi-pribadi yang merasa memiliki berlian di dalam dirinya. Untuk menunjukkan bahwa diri Anda berlian memerlukan waktu yang amat panjang, pengorbanan dan kesabaran. Lain halnya kalau mau menunjukkan kebusukan-kebusukan. Dalam waktu yang amat pendek, semua orang tahu akan kebusukan-kebusukan tadi.
Saya pernah memiliki seorang mantan atasan yang amat tekun. Sejak tamat SMU telah mulai bekerja, sambil bekerja ia kuliah. Tidak jarang ia melaksanakan pekerjaan setingkat kuli. Untuk sampai pada posisi tertinggi di dalam perusahaan, ia sudah mendaki tangga karir yang terjal, berat, menggoda dan menyakitkan. Setelah dua puluh tahun, baru pemilik tahu kalau dialah berliannya. Lain halnya dengan bau busuk. Lihat saja mantan menteri yang dibawa ke pengadilan gara-gara korupsi. Hanya butuh waktu bulanan untuk menghancurkan seluruh bangunan karir dan reputasinya yang selama ini amat menjulang.
Belajar dari sini, bagi perusahaan maupun bagi pribadi, teramat penting untuk menyadari hakikat mendalam dari berlian dan bau busuk. Kita semua memang tidak menyukai bau busuk dan menyukai berlian. Namun, sebagaimana cerita di atas, untuk menemukannya atau untuk ditemukan orang lain, memerlukan tenggang waktu dan pengorbanan yang amat berbeda.
Bercermin dari sini, setiap kali ada gangguan atau godaan karir, saya belajar untuk menempatkannya dalam kerangka berlian dan bau busuk ini. Demikian juga kalau menghadapi klien tidak sabar dan mau cepat-cepat tahu berliannya.
Sebagaimana kita berproses secara panjang dan kompleks menjadi manusia dewasa. Berlian dalam bentuk karyawan, maupun diri kita juga sama. Ada kalanya kita memiliki kinerja yang turun drastis. Ada saatnya orang demikian bergairah dalam memacu prestasi. Kalau hanya karena ketidaksabaran, egosime dan sejenisnya kita memfokuskan pada bau busuk, dan lupa potensi berliannya, tidak ada perusahaan yang akan menemukan berlian. Demikian juga dengan Anda yang menyimpan berlian dalam diri masing-masing. Benar ungkapan orang bijak, di manapun berlian tetap berlian. Akan tetapi, agar berlian Anda ditemukan orang, diperlukan banyak usaha dan pengorbanan.
** Anda bisa mempelajari hal-hal baru kapan saja dalam hidup Anda asalkan Anda bersedia menjadi pemula. Jika Anda benar-benar mau belajar seperti seorang pemula, maka seluruh dunia ini akan terbuka untuk Anda. ~(Barbara Sher)~ Segalanya tampak mustahil bagi orang yang tidak pernah mencoba apapun. ~(Jean-Louis Etienne)~ ** Warm Regards, INDRO PURWOKO MIS Manager - Operation ERP SAP | PT. APL Indonesia (A Zuelligpharma Group)| www.zuelligpharma.com | Pharmaceutical Distributor Professional Profile: http://www.linkedin.com/in/indrop MEMBANGUNKAN PEMIMPIN DALAM DIRIOleh: Gede Prama
Ketika beberapa tahun lalu Drucker menulis, bahwa semakin banyak pemimpin harus memimpin manusia yang nota bene bukan bawahannya secara formal, mulanya saya agak ragu.
Akan tetapi sekarang, begitu gelombang aliansi mewabah di mana-mana, munculnya pekerja profesional dengan sistim nilai yang amat berbeda, berubahnya piramida riil organisasi, ada yang bahkan menyebutknya menjadi piramida terbalik, sinyalemen Drucker tadi tidak hanya menjadi kenyataan. Tetapi juga menjadi basis perubahan dalam banyak paradigma kepemimpinan.
Sebut saja ANTV yang beraliansi dengan MTV melalui acara-acara musiknya. Pemimpin-pemimpin ANTV memang bukan pemimpin formal bagi pekerja-pekerja MTV. Akan tetapi, mereka punya kepentingan kuat agar hasil kerja karyawan MTV, memberi kontribusi besar kepada keberhasilan kepemimpinan boss ANTV.
Hadirnya pekerja profesional di mana-mana juga menghadirkan daya paksa yang besar dalam gaya kepemimpinan. Berbeda dengan pekerja zaman dulu, di mana manusia mudah saja digerakkan dengan kaidah-kaidah formal. Sekarang, banyak pekerja profesional yang dengan amat enteng berani menolak perintah atasan. Asuransi adalah salah satu industri yang dihadapkan pada tantangan besar di sektor ini. Banyak pemimpin bisnis asuransi tidak berdaya dengan alat-alat formalnya. Pasalnya, sebagian besar pekerja di sini tidak digaji. Melainkan, hidup kaya dari komisi. Bahkan ada yang lebih kaya dari atasannya. Dalam keadaan demikian, piramida organisasi menjadi terbalik. Bukannya manajemen puncak yang menentukan. Namun, orang bawah yang berinteraksi langsung dengan konsumenlah yang menentukan hidup matinya organisasi.
Bagi saya, setiap manusia– sekali lagi setiap manusia– yang lahir sebenarnya sudah membawa bakat kepemimpinan dalam dirinya. Bayangkan, di antara demikian banyak sperma positif dan negatif yang bertemu, yang menjadi manusia hanya sepersekiannya saja. Ini tentu saja melalui proses seleksi. Dan proses seleksi terakhir juga lahir dari logika kepemimpinan.
Sayangnya, banyak orang gagal yang membiarkan saja potensi kepemimpinannya tidur selamanya. Mereka anggap, keadaan kurang wibawa, kurang karisma, kurang dihormati sudah kita bawa sejak lahir. Sebaliknya, mereka yang hidupnya berhasil, sengaja membangunkan potensi kepemimpinan tadi, untuk kemudian menemukan limpahan wibawa, karisma dan rasa hormat orang lain.
Anda boleh saja memiliki cara berbeda dalam membangunkan pemimpin dalam diri. Dalam kesempatan ini, izinkan saya membuka pintu inspirasi buat Anda.
Pertama, penting dan teramat penting bagi kita untuk menerima secara total orang di depan cermin. Tidak hanya penampilan fisiknya, tetapi juga prestasi materi, jiwa, kelemahan. Bilamana perlu, menikahlah dengan sang aku. Sebab, hanya dengan bercengkerama secara rapi dengan sang aku, kita tidak kehilangan terlalu banyak energi keberhasilan. Lebih dari itu, begitu Anda menyatu dengan sang aku, your potential of success is unlimited.
Kedua, gunakan secara maksimal “kekayaan” yang dilimpahkan Tuhan ke semua orang yaitu: kebebasan. Mirip dengan salah satu pidatonya Steve Forbes: “the true wealth of society is not physical things, but the human mind when it is liberated by enterprise, challenge and service”. Tidak jauh berbeda dengan burung elang yang bisa melihat wajah dunia secara luas dan komprehensif, karena terbang tinggi dan bebas. Kita juga demikian, wajah kita secara potensial akan terlihat utuh begitu kita memiliki sayap kebebasan seperti burung elang. Oleh karena itu, terbangkanlah diri Anda setinggi dan sejauh mungkin dengan impian dan imajinasi Anda. Impian dan imajinasi, bagi saya, adalah sebuah pembebas yang bisa membawa ke tempat yang tidak terbayangkan.
Ketiga, tarik kehidupan Anda ke tempat tinggi dengan target yang juga tinggi. Dikatakan demikian, karena target sebenarnya berfungsi seperti magnet. Mereka dengan target tinggi kerap sampai ke tempat yang juga tinggi. Untuk itu, jangan pernah takut dengan target yang tinggi. Bila mana perlu, pertinggi lagi target Anda yang sudah tinggi. Dengan usaha yang memadai, percayalah, kehidupan Anda akan ditarik ke atas.
Keempat, kalau ada pengaman kehidupan yang pasti menjadikan hidup Anda aman, ia pastilah bernama “belajar”. Sebab, dengan belajar kita sedang mengasah pisau kita terus menerus. Setumpul-tumpulnya pisau, kalau diasah terus, kelak pasti akan tajam juga.
Dan terakhir, hidup akan menjadi lebih berharga, dan juga mempercepat bangunnya pemimpin dari dalam, kalau kita memiliki “love & use” for everybody (kecintaan dan manfaat bagi setiap orang). Sebenarnya kalau kita bisa selalu memberikan manfaat buat orang lain dan mencintai mereka tanpa pamrih, kepemimpinan kita dari dalam akan terasah setiap saat. Anda tidak percaya, segeralah lakukan!!!. ** Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Dengan Imajinasi, kita akan bergerak sedangkan dengan Pengetahuan cenderung membuat kita merasa nyaman dan enggan untuk bergerak. ~(Albert Einstein)~ Dunia ini bagai sebuah cermin besar. Ia memantulkan gambaran diri Anda kepada Anda. Jika Anda seorang yang mencintai, seorang yang ramah, seorang penolong, dunia akan menunjukkan rasa cinta, keramahan, dan penolongnya kepada Anda. Dunia ini adalah siapa Anda. ~(Thomas Dreier)~ ** Warm Regards,INDRO PURWOKO MIS Manager-Project Management | PT. APL Indonesia (A Zuelligpharma Group)| www.zuelligpharma.com | Pharmaceutical Distributor Professional Profile: http://www.linkedin.com/in/indropPublic Profile: http://indropurwoko.spaces.live.com April 23 BERGELIMANG CINTA SETIAP HARIOleh:
Gede Prama
Karena kecintaan pada keluarga, ada sebagian kegiatan mereka yang harus saya ikuti secara agak intensif. Salah satu dari kegiatan tersebut adalah ikut menikmati musik-musik mereka. Belakangan, ternyata saya menemukan kesenangan tersendiri. Sebagian lirik-lirik lagu kesenangan ABG ini, ternyata menggugah hati dan kalbu. Salah satunya adalah lagu Boyzone dengan judul Every Day I Love You.
Saya kira, kegiatan mencintai setiap hari tidak hanya menjadi monopoli anak muda semata. Ia adalah fundamen paling dasar kehidupan setiap orang. Bedanya hanya terletak pada siapa dan apa yang dicintai saja. Anak muda mencintai pacar mereka. Kita yang sudah dewasa memiliki banyak sekali orang maupun hal yang layak untuk dicintai. Lebih-lebih bagi mereka yang hidup dengan the path of heart. Apa saja yang lewat di depan mata layak dan perlu untuk dicintai. Pohon yang rubuh layak untuk ditegakkan. Puntung rokok yang dibuang sembarangan perlu dipindahkan ke tempatnya. Keran air yang lupa dimatikan orang lain di tempat umum, tidak salah kalau dimatikan. Orang tua yang naik bus umum amat sopan kalau diberi kesempatan duduk. Memasuki sebuah pintu di tempat umum, akan lebih terhormat kalau memegangi pintu sambil mempersilahkan orang lain untuk lewat.
Yang jelas, dengan sedikit kejernihan, hidup ini sebenarnya menghadirkan samudera dan langit luas tempat mengekspresikan cinta setiap saat. Keliru kalau ada orang beranggapan bahwa hidupnya miskin cinta. Bagaimana bisa menyebut diri miskin cinta kalau setiap detik - sekali lagi setiap detik - hidup dalam samudera dan langit yang dipenuhi dengan cinta.
Coba perhatikan lebih detail. Udara yang kita hirup adalah buah cinta. Makanan yang kita makan juga hasil dari cinta tulus ibu pertiwi. Air yang kita minum melalui siklus cinta tanpa pamrih. Rumah yang kita tempati, mobil yang kita kendarai, jalan yang kita lalui semuanya adalah buah cinta. Kita lahir dari Ibu dan Bapak yang sesedikit apapun pasti mengenal cinta. Apa lagi rezeki, ia adalah bukti cinta Tuhan yang paling konkrit. Benang merahnya, hidup dan kehidupan sebenarnya bergelimang cinta di mana-mana. Setiap bentuk unsur pembentuk hidup dan kehidupan sebenarnya mengandung cinta. Demikian juga dengan badan dan jiwa kita.
Tantangannya, karena badan dan jiwa ini kompleks dan terdiri dari banyak sekali unsur, maka ada kalanya cinta menjadi unsur yang memimpin, ada saatnya ia dipimpin oleh kekuatan lain. Dinamika dalam diri, sebenarnya hasil tawar menawar antara cinta dengan unsur lainnya. Sebagaimana tawar menawar lainnya, ada saatnya cinta menang, ada kalanya ia kalah. Sehebat dan semurni apapun kehidupan seseorang, pasti saja pernah ditandai oleh tunduknya cinta pada kebencian misalnya.
Persoalannya sekarang, bagaimana agar cinta bisa menjadi kekuatan yang lebih banyak menangnya dibandingkan dengan kalahnya? Anda boleh berargumen lain, namun bagi saya selama jantung masih berdetak, tubuh dan jiwa ini akan selalu ditandai oleh dinamika antara cinta dan bukan cinta. Tidak akan pernah kita bisa membuat tubuh ini menjadi seratus persen cinta dan nol persen bukan cinta. Keduanya akan senantiasa menjadi penghuni kehidupan selamanya. Namun, sebagaimana pernah diyakini Confusius, kita bisa menempatkan cinta lebih banyak sebagai pemenang melalui kebiasaan-kebiasaan. Sebab, diri ini mirip dengan tanah liat yang kita bentuk melalui kebiasaan-kebiasaan.
Bertolak dari sini, membuat hidup yang bergelimang cinta setiap hari sebagaimana lagu Boyzone sebenarnya bukan tidak mungkin. Ia mungkin dan bisa diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan. Dan setiap detik kehidupan sebenarnya kesempatan untuk mewujudkan hidup yang bergelimang cinta.
Seorang pembaca pernah mengirim e-mail bahwa ia sering membaca tulisan saya di mikrolet, inipun sebuah tempat yang amat layak untuk mengekspresikan cinta. Pembaca yang lain bertutur melalui e-mail bahwa ia membaca tulisan saya bersama suaminya di rumah. Ini apa lagi, pasangan hidup sebenarnya belahan cinta. Yang jelas, peluang untuk memulai dan membiasakan hidup bergelimang cinta ada di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja.
Persoalannya hanya dua, segera memulainya dan lakukan dengan penuh keseriusan. Tantangan dan godaan pasti akan hadir setiap saat dia mau datang. Namun, tempatkan tantangan dan godaan tadi sebagai bagian untuk memperkuat cinta, bukan sebaliknya.
Ketika tulisan ini saya buat, kami sekeluarga sedang menginap di sebuah hotel berbintang lima di Carita Jawa Barat. Niat menginap yang dilandasi kecintaan pada anak dan istri, rupanya penuh godaan. Baru masuk ke kamar, AC tidak menyala. Setelah dilempar telepon ke sana ke mari, ternyata petugas tidak kunjung datang juga. Malamnya, entah karena apa listrik kamar kami sendiri mati. Sehingga terpaksa paginya harus sabar lagi pergi menghadap manajer yang sedang bertugas. Itupun masih ditambah dengan makan pagi yang seharusnya untuk jatah empat orang, oleh petugas disebut untuk dua orang.
Anda boleh menyebut kehidupan seperti ini seperti neraka, tetapi saya menyebutnya sebagai benih-benih tumbuhnya cinta. Di mana bunga cinta yang indah dan harum, tidak tumbuh di atas bunga yang harum juga, melainkan tumbuh di atas tai sapi yang kerap berbau amat tidak sedap.
** Cinta adalah memperhatikan dan memberi, tanpa berharap untuk diperhatikan dan diberi. ~(Buccek Depp; Brownies)~ Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang tetapi tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya. ~(Indro Purwoko)~ ** Warm Regards, INDRO PURWOKO MIS Manager-Operation ERP SAP | PT. APL
Indonesia (A Zuelligpharma Group)| www.zuelligpharma.com | Pharmaceutical Distributor
Professional Profile: http://www.linkedin.com/in/indrop BERHENTILAH MENYALAHKAN ORANG LAINOleh: Gede Prama
Oleh ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang frustrasi di dunia kerja, kerap saya ditanya: aspek apa dari dunia kerja yang paling sulit dihadapi? Terus terang, bekerja apapun dan dimanapun, serta bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun belajar dan bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah interaksi antarmanusia. Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja, mereka yang sudah berumur senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat pusing oleh interaksi terakhir.
Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara menendang bola dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan kemana bola akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang kucing, kita tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati atau alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing. Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin mengelola manusia menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil memang bisa diungkapkan melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat tidak terungkapkan dan hanya bisa dirasakan.
Saya tidak antisekolah atau antipelatihan, namun hal-hal yang bersifat tidak terungkapkan terakhir, lebih banyak bisa dimengerti kalau kita mengalaminya sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak cocok, mau didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif di belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti di alami sendiri di lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang godaan tadi.
Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan.
Amat mirip dengan cara terakhir, Ken Cloke dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis: “Define the problem as a person and you are in trouble. Define the problem as difficult behavior, you can do something about it”. Dengan kata lain, jika Anda menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan (apa lagi ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar. Namun, bila pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian kita bisa mencarikan jalan keluar yang lebih produktif.
Nah, bila saja banyak orang mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah tempat “meditasi” yang kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya – dari penjahat sampai dengan pendeta – memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, siapapun juga orangnya, ia membutuhkan deep meditation untuk mengelola dorongan-dorongan tadi.
Apa yang saya sebut dengan deep meditation sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh ini.
Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah merubah orang lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Sulit membayangkan, tugas-tugas terakhir bisa diselesaikan secara berhasil tanpa melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang tertentu kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.
Di suatu waktu, seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengelola ribuan manusia bertutur penuh keprihatinan. Mengurus manusia-manusia sulit – demikian menurut rekan tadi–adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian manusia sulit diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti – sekali lagi pasti – ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan pekerjaan rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan bergiliran.
Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini, memecahkan masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang boleh-boleh saja dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun yang dipimpin oleh manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping tidak bisa memecahkan persoalan jangka panjang, juga gagal membangun hubungan industrial yang kuat.
Nah, satu spirit dengan pendekatan deep meditation, pekerjaan interaksi antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila kita mulai berhenti menyalahkan orang lain. ** Banyak orang selalu
menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang-orang sukses
selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak
menemukannya, mereka akan menciptakannya. ~(George
Bernard Shaw)~ Warm Regards, INDRO PURWOKO MIS Manager-Operation ERP SAP | PT. APL
Indonesia (A Zuelligpharma Group)| www.zuelligpharma.com | Pharmaceutical Distributor
Professional Profile: http://www.linkedin.com/in/indrop November 21 DI SINI SENANG, DISANA SENANGOleh: Gede Prama Pada suatu hari kerja yang melelahkan dan membosankan, bersama seorang rekan kerja yang juga lagi jenuh, tiba-tiba seorang penyiar wanita radio Delta FM Jakarta membacakan salah satu tulisan saya yang berjudul “Tuhan Tidak Pernah Benar”. Tulisan ini bertutur tentang kehidupan saya dulu yang miskin dari rasa syukur. Sehingga, meletakkan Tuhan dalam posisi salah selalu.Bingkai berfikir seperti ini juga yang saya gunakan ketika Tuhan “mengingatkan” saya melalui suara penyiar Delta FM. Sebagaimana sudah sering saya ungkapkan, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua kejadian yang lewat di depan mata setiap harinya, membawa pesan-pesan Tuhan.
Dalam frekuensi yang teramat sering, ada banyak orang yang bertanya, kenapa merubah diri ini demikian sulit dan lamanya. Hari ini mendengarkan seminar saya, dua minggu kemudian sudah lupa. Minggu ini membaca buku-buku kebijakan, bulan berikutnya kembali lagi ke perilaku asal. Bulan ini dicuci otak melalui pelatihan yang mencerahkan, tidak lama kemudian muncul kembali kebiasaan lama yang menjengkelkan. Detik ini juga sangat terang dalam pikiran, kalau kebaikan bisa menghasilkan keajaiban-keajaiban, tidak lama setelah itu, ada saja godaan yang membuat kita lupa.
Anda yang mengalami pengalaman seperti ini, sebenarnya tidak perlu berkecil hati. Sebab, ini terjadi di hampir setiap orang, termasuk diri saya sendiri. Bila boleh diandaikan jiwa dan badan ini dengan bangunan, setiap orang dewasa telah memiliki bangunan badan dan jiwa yang tinggi dan kokoh. Untuk menggantinya dengan bangunan baru, kita perlu merobohkan bangunan lama terlebih dulu, baru kemudian bisa membanguan bangunan baru. Dan sebagaimana bangunan yang sebenarnya, tidak hanya membangun bangunan baru yang menuntut kehati-hatian. Merobohkan bangunan lamapun memerlukan kehati-hatian dan kesabaran. Dan keduanya sama-sama menuntut kesabaran waktu yang lama.
Dan betapa lamapun waktunya, betapa besarpun pengorbanannya, kita wajib merobohkan bangunan lama dan menggantinya dengan bangunan baru. Dalam bentuknya yang esensial, misi hidup semua orang adalah membuat bangunan baru di atas fondamen-fondamen badan dan jiwa yang lama. Saya menilai kinerja hidup saya, dalam bentuk seberapa banyak bangunan lama itu runtuh, dan seberapa banyak bangunan baru yang terbangun di atas tanah (baca : badan) yang sama.
Sulit, tidak mudah, dan kadang menderita memang. Namun, ada hal-hal yang membuat kegiatan ini menjadi agak lebih mudah. Kegiatan terakhir bernama rasa hormat kita pada diri sendiri dan orang lain. Mari kita mulai dengan rasa hormat yang pertama.
Dalam kesusahan dan kesulitan memperbaiki sang hidup, bagaimanapun tubuh dan jiwa ini adalah kekayaan paling berguna yang diberikan Tuhan ke kita. Lihat semua bentuk luarnya, bukankah bentuk seperti ini hanya milik kita sendiri? Rasakan juga isi di dalamnya, ini juga hanya spesifik milik kita saja. Ukuran-ukuran kesempurnaan memang mungkin bisa menarik kita ke tempat yang lebih tinggi. Namun, ukuran-ukuran perbaikan yang terjadi setiap hari dalam diri ini, adalah rajutan kain yang mempercantik diri ini. Dan ini tidak kalah daya tariknya dengan ukuran-ukuran kesempurnaan yang diimpikan banyak orang.
Wajah saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan wajah Brad Pitt yang super ganteng itu. Tinggi badan saya juga jauh lebih pendek. Apa lagi rambut saya sudah mengenal kamus kerontokan. Rezeki saya memang amat dan teramat jauh di bawah rezeki Bill Gates yang kesohor itu. Demikian juga perusahaan yang saya pimpin. Dibandingkan dengan Microsoft, ia tidak bisa dibandingkan. Kualitas hidup dan kualitas kepemimpinan saya mirip dengan bumi langit, jika dibandingkan hidup dan kepemimpinan Mahatma Gandhi misalnya. Namun, dengan seluruh kekurangan ini, saya mensyukuri sekali seluruh perbaikan yang telah terjadi. Dulu, kerap diterka berumur sekurang-kurangnya sepuluh tahun lebih tua dibandingkan dengan umur asli. Sekarang, orang yang menerka demikian sudah jauh berkurang. Bahkan, sudah ada yang menerka lebih muda dari umur sebenarnya. Bukankah ini patut disyukuri?
Serupa dengan rasa hormat ke diri sendiri yang menghasilkan wajah fisik dan wajah kehidupan yang lebih muda, rasa hormat ke orang lain juga tidak kalah ajaibnya. Dalam kadar yang tepat, ia bahkan bisa berfungsi sebagai mantera yang menaklukkan banyak orang. Lebih hebat lagi, orang yang kita taklukkan merasa dirinya dimenangkan. Sehingga, ini bisa menjadi fondamen kemajuan yang sangat sustainable. Kalau boleh jujur, kebanyakan hal yang saya raih dalam kehidupan, berasal dari “mantera” jenis terakhir.
Dalam totalitas, rasa hormat ke
diri sendiri dan kepada orang lain, keduanya dalam kadar yang tepat, bisa
merubah hidup banyak orang seperti bait lagu anak-anak “di sini senang, di sana
senang, di mana-mana hatiku senang”. Bagaimana tidak disambut kesenangan di
mana-mana? Menoleh ke diri sendiri, bertemu wajah tersenyum penuh rasa syukur,
tambah awet muda, dan menarik simpati banyak orang. Menengok ke orang lain,
merekapun tersenyum penuh dengan rasa hormat. Sebagian bahkan tersenyum sambil
meletakkan rezeki ke tangan kita yang tengadah. Mohon ditunjukkan ke saya,
adakah orang yang tidak suka dengan bait lagu anak-anak terakhir ini? ~Dunia ini
bagai sebuah cermin besar. Ia memantulkan gambaran diri Anda kepada
Anda. Jika Anda seorang yang mencintai, seorang yang ramah, seorang
penolong, dunia akan menunjukkan rasa cinta, keramahan, dan penolongnya
kepada Anda. Dunia ini adalah siapa Anda.~ Thomas Dreier October 31 PADA AKHIRNYA HANYA KEINDAHANOleh: Gede Prama
Setiap perjalanan (termasuk perjalanan hidup) sering diganggu oleh pertanyaan nakal sekaligus usil: di mana dan bagaimana akhirnya? Disebut nakal dan usil karena pertanyaan ini juga yang membuat manusia buru-buru, tidak sabar, mudah memberi judul gagal. Untuk kemudian, membiarkan hampir setiap pengalaman keseharian kehilangan keindahannya. Seperti berjalan ke Bandung lewat Puncak misalnya. Karena tidak sabar dan buru-buru maka keindahan pemandangan berupa hijaunya daun teh, hamparan pemandangan yang berujung pada kota Jakarta sampai dengan hawa dingin, segar dan sejuk, hilang begitu saja tanpa sempat dinikmati.
Hal yang serupa juga terjadi dengan kehidupan. Setiap langkah yang buru-buru dan tidak sabar mau segera sampai di tujuan, membuat terlalu banyak keindahan yang hilang. Seperti memakan sebatang pisang. Ketika buru-buru tidak saja hadir kemungkinan lidah tergigit, tetapi juga banyak keindahan yang hilang. Memakan pisang (demikian juga hidup) tujuannya bukanlah menghabiskan pisangnya secepat dan sesingkat mungkin. Melainkan menikmati setiap gigitan dan kunyahan. Setiap gerakan mulut sebenarnya menghadirkan keindahan.
Dalam hidup juga tersedia terlalu banyak sahabat yang buru-buru. Ketika lulus sekolah, buru-buru mau bekerja. Setelah bekerja, buru-buru mau jadi direktur. Setelah jadi direktur buru-buru mau jadi presiden direktur. Setelah jadi presiden direktur, baru terasa kalau banyak sekali yang hilang. Tawa canda sahabat ketika masih di bawah dulu. Ketulusan dan kejujuran orang lain ketika masih jadi orang biasa. Teman-teman sekeliling yang datang hanya untuk berteman, tanpa motif yang kotor-kotor. Pelukan dan ciuman anak istri yang dulu sering hadir karena waktu bersama yang melimpah. Dan setelah menoleh seperti ini, baru sadar kalau dalam langkah-langkah hidup yang buru-buru, banyak sekali yang hilang di belakang. Dan diganti oleh kekinian dan masa depan yang kering, gersang dan penuh ketakutan.
Disinari oleh kesadaran seperti inilah, mulai banyak pejalan kaki di dunia kejernihan berhenti buru-buru. Bukannya berhenti berusaha, sekali lagi bukan. Melainkan berhenti buru-buru dan berhenti diganggu oleh pertanyaan usil dan nakal: di mana dan bagaimana akhirnya ? Kemudian bersahabat serta berpelukan mesra dengan kekinian yang suci. Berjalan tetap berjalan, melangkah ke tujuan juga masih, cuman tidak ada keindahan dalam kekinian yang dibiarkan berlalu tanpa rasa syukur.
Seperti Anda yang sedang membaca tulisan pendek ini. Kesimpulan akhirnya memang belum ketahuan. Rangkaian makna yang bisa mengendap ke dalam juga belum tahu. Apa lagi derajat perubahan yang ditimbulkan karena membaca tulisan ini, masih jauh. Cuman ada suara tarikan nafas masuk dan hembusan nafas keluar yang berbunyi dan bertutur tentang sesuatu. Ada kekayaan badan sehat yang perlu disyukuri. Ada kursi empuk yang menyangga dengan setianya. Dan masih banyak lagi yang lain.
Bagi sahabat-sahabat yang sudah belajar berpelukan mesra dengan masa kini yang suci, kemudian ada kekuatan yang mendidik untuk memasuki wilayah “SURRENDER” (ikhlas). Berbeda dengan pikiran yang serakah memilih sukses di atas gagal, benar di atas salah, baik di atas buruk, keikhlasan ia tidak saja tidak memilih, bahasanya hanya satu: semuanya sudah, sedang dan akan berjalan sempurna! Salah seorang sahabat yang sudah sampai di sini bernama Eckart Tolle. Dalam karyanya yang berjudul Stillness Speaks ia menulis: sometimes surrender means giving up trying to understand and becoming comfortable with not knowing . Ikhlas bisa berarti berhenti berusaha untuk mengerti. Bahkan ketika tidak tahupun masih merasa aman dan nyaman.
Terus terang, kesimpulan ini agak menghentak. Terutama pada zaman di mana manusia baru merasa aman dan nyaman ketika tahu, tiba-tiba ada yang mengatakan belajar aman dan nyaman ketika tidak tahu. Dan ternyata ada benarnya. Tidak semua segi hidup bisa diketahui. Tiga pertanyaan penting kehidupan (dari mana saya datang sebelum lahir, kenapa ada di sini, kemana pergi setelah mati) menyimpan bagian-bagian gelap yang tidak bisa diketahui. Ilmu pengetahuan sudah berjalan demikian jauh, teknologi sudah bekerja demikian keras, tetapi toh jawaban terhadap ketiga pertanyaan tadi belum bisa disepakati sepenuhnya.
Indahnya, begitu manusia terbiasa aman dan nyaman dalam ketidaktahuan, pintu-pintu keindahan seperti terbuka di sana-sini. Jangankan ketika makan enak, menarik dan menghembuskan nafaspun ada yang indah. Jangankan ketika berlimpah rezeki, tanpa ada limpahan rezekipun masih ada yang bersyukur di dalam sini. Jangankan ketika sehat, tatkala sakitpun masih bisa melihat makna. Jangankan ketika naik pangkat, tatkala pensiunpun tersisa berlimpah keindahan.
Salah seorang sahabat yang pernah sampai di sini bernama James Redfield. Dalam sebuah karyanya yang menawan yang berjudul The Secret of Shambala, ia menulis: focus on the beauty, and begin to breath in the energy within . Ketika manusia terfokus pada keindahan, dan menarik energi di dalam melalui nafas, di mana-mana hanya tersisa keindahan, keindahan dan hanya keindahan.
Dalam lapisan-lapisan keindahan yang lebih dalam, Hazrat Inayat Khan pernah mengemukakan, bukankah keindahan adalah bahasa Tuhan ? Ketika topeng keindahan dibuka, bukankah yang tersiasa hanya kesucian? Tatkala semuanya hanya keindahan, bukankah ada yang terlahir kembali? *** *Keberhasilan tidak akan pernah menyapa, kalau kita tidak pernah ramah kepada kegagalan. -Mario Teguh- *Suatu
Keberhasilan harus dimulai dengan mencoba. Keberhasilan dan Kegagalan mempunyai
persentase yang sama, dan pastikan upaya kita adalah untuk memperbesar
persentase Keberhasilan. Apa yang memperbesar persentase Keberhasilan?
Mencoba. Jika belum ada yang pasti antara Keberhasilan dan
Kegagalan, ada satu yang sudah pasti GAGAL yaitu yang TIDAK BERANI
MENCOBA. –Indro Purwoko-
October 29 MATI SEBELUM MATI Oleh: I Gede
Prama
Setelah lama belajar menyelami sebagian samudera “kebetulan”, melihat, mendengar dan membaca tanda-tanda makna di balik banyak sekali peristiwa kebetulan, ternyata manuskrip tua di Peru itu betul: tidak ada kejadian yang kebetulan. Semuanya terangkai dalam jejaring makna yang sempurna. Cuman hanya karena kemampuan manusia untuk mengerti demikian terbatas, maka ada bagian-bagian dari jejaring makna tadi yang tidak terlihat. Dan bagian yang tidak bisa ditangkap oleh pengertian manusia yang terbatas inilah, yang kemudian diberi judul kebetulan. Dalam teropong makna seperti ini, bisa dimaklumi kalau ada seorang sahabat yang pernah terperangah oleh sebuah tulisan saya. Bukan karena tulisannya bagus atau hebat, sekali lagi bukan. Namun karena pagi-pagi ia membaca tulisan saya yang berjudul “Kematian juga mempesona”, siangnya ia ditinggalkan oleh Ibu kandungnya melalui proses kematian. Serupa dengan tulisan ini, ketika tangan-tangan ini sedang merapikan komputer sebagai persiapan menulis, seorang sahabat menelpon: “saya tersentuh dengan suara Anda di radio pagi ini tentang mati sebelum mati!”. Ada bagian-bagian dari tubuh ini yang pernah tersentuh oleh nasehatnya Winston Churchill. Di sebuah kesempatan, Churchill pernah berucap: we make a living by what we get, we make a life by what we give. Kita hidup dari apa-apa yang kita peroleh. Dan menciptakan kehidupan melalui apa-apa yang kita beri. Pesan ini menjadi demikian menyentuh, terutama karena kehidupan di zaman ini menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan sesuatu. Dan demikian sedikit yang kita alokasikan untuk memikirkan hal-hal yang bisa kita berikan. Begitu ada orang lain yang menyebutkan kalau kita baru saja memberi – kendatipun dalam nilai yang masih bisa diperdebatkan – ada gelombang-gelombang kejernihan yang menghempas di dalam sini. Ia membersihkan, memurnikan sekaligus menjernihkan. Sehingga bisa dimengerti kalau ada sejumlah sahabat dengan modal-modal kepekaan yang mengagumkan, kemudian mudah sekali meneteskan air mata, terutama ketika tangannya harus menerima serangkaian pemberian. Tidak saja pemberian dari orang lain, tetapi juga pemberian dari semesta dan pencipta. Seperti ada bagian-bagian tertentu dari pintu hati ini yang sedang diketuk, demikianlah pengalaman sejumlah sahabat ketika harus menerima pemberian. Jangankan memperoleh rezeki yang besar, menghirup nafas, melihat pemandangan yang indah, rumput menghijau, bunga yang mekar di taman, anak istri yang sehat walafiat, langit biru dan bahkan matahari terbenam dengan bentuk wajah tertentupun mudah sekali menyentuh. Sehingga dalam totalitas, hidup ini sebenarnya hanyalah sebuah jejaring pemberian. Sejak janin kita diberi makan oleh Ibu, dan sampai sekarangpun masih diberi makan oleh Ibu yang lain. Ada sahabat yang bertanya, dari mana kepekaan-kepekaan seperti ini bisa diperoleh ? Inilah logika manusia masa kini, semuanya dilihat dan dicari dalam kerangka memperoleh, sedikit sekali yang memulainya dengan kata memberi. Ada memang sahabat yang berpendapat kalau kepekaan bisa diperoleh. Entah melalui proses belajar, mendengar, meniru dan masih ada lagi yang lain. Dan tentu saja cara pandang seperti ini layak dihargai. Sama layaknya untuk didengar, ada juga sahabat yang menyebutkan kalau kepekaan akan muncul dengan sendirinya di dalam kalau manusia rajin memberi. Memberi, itulah titik berangkat menelusuri jalan-jalan kepekaan. Ada yang merayakan ulang tahunnya di Panti Asuhan. Ada yang menjadi pelayan umat di tempat ibadah masing-masing. Ada yang rajin membantu orang lain. Ada yang menebar senyuman di mana-mana. Ada yang memiliki tabungan tindakan-tindakan kecil yang tidak dikenal. Setiap tangan yang rajin serta konsisten memberi, entah dari mana datangnya energi, tiba-tiba saja seperti ada yang mengirimi serangkaian kepekaan. Negatifnya, manusia jenis ini disebut oleh manusia lain sebagai terlalu perasa. Positifnya, ia terhubung secara mudah dengan jejaring makna. Sehingga dalam hampir setiap langkah, ia dibimbing, diberitahu, diarahkan serta dilindungi. Bisa dimaklumi kalau mereka kemudian mudah sekali meneteskan air mata. Bukan karena cengeng, melainkan karena kehidupan sudah demikian baiknya pada orang-orang jenis ini. Dalam teropong makna yang lain, ada sahabat yang menyebut kelompok manusia seperti ini dengan manusia yang sudah mati sebelum mati. Sebelum tubuhnya disebut mati secara medis, ada kematian lain yang sudah menjemputnya terlebih dahulu. Yakni kematian manusia dari ego, aku, subyek, dan identitas sombong serta angkuh lainnya. Pengetahuan dan bahasa memang mengenal subyek dan obyek. Logika-logika pengetahuan tertentu juga menempatkan manusia dalam posisi mengetahui, dan selain manusia didudukkan dalam kursi diketahuin. Namun, kehidupan yang sudah mati sebelum mati tidak mengenal identitas subyek dan obyek, tidak ada kotak mengetahui diketahui, yang ada hanya sebuah jejaring makna. Di mana semuanya terhubung demikian rapinya. Dalam bahasa salah seorang pejalan kaki di bidang ini: when I discovered that I am nothing, I am well connected with everything . Ketika manusia menyadari dirinya bukan apa-apa, ia terhubung secara amat rapi dengan jejaring makna. Dan kemudian lebih dari sekadar terhubung, gerakan-gerakan hidup berjalan sangat seirama dengan semesta. Tidak ada kata yang lebih berguna dari kata syukur dalam hal ini. Ada sahabat yang berani mati sebelum mati? “Saya
tidak percaya bahwa tujuan hidup ini adalah menjadi bahagia. Saya pikir tujuan
hidup ini adalah menjadi berguna, menjadi bertanggung jawab, menjadi penghibur
dan bermanfaat bagi orang lain. Ini diatas segalanya.” - Leo Rosten
-
KESEDERHANAAN YG PALING MENCERAHKAN Oleh: I Gede Prama
Tanggal 7 Desember 2001 adalah salah satu hari yang "khusus" dalam hidup saya. Disebut khusus, karena di hari itu saya dilantik menjadi orang nomer satu (CEO) sebuah holding company yang membawahi sekumpulan perusahaan yang sempat menjadi perdebatan panas di negeri ini. Mirip dengan ketika pertama kali seorang sahabat mendekati saya agar bersedia menjadi pioneer, saat pelantikanpun masih ada perasaan mendua: Apakah ini berkah atau musibah? Lebih-lebih keesokan harinya, harian Kompas memberitakannya dengan tulisan besar di halaman ekonominya. Maka berdatanganlah telepon dan pesan-pesan SMS yang mesti dilayani satu per satu. Umumnya, hampir semua sahabat mengucapkan selamat, sekaligus berpesan hati-hati. Namun, segelintir sahabat dekat mengirimkan berita duka cita: ‘ikut berduka cita akan diangkatnya Gde Prama di posisi baru’. Terutama karena mereka khawatir saya bisa kehilangan kejernihan dan kejujuran. Sebagai manusia biasa yang masih memiliki kekuatan emosi di dalam sini, keraguan memang kadang datang sebagai pengunjung. Demikian juga ketika hari khusus di atas tiba. Akan tetapi, di salah satu keheningan meditasi, ada serangkaian ide yang sempat terlintas di kepala. ‘Ketakutan adalah sejenis ketidakyakinan kepada Tuhan’, demikian ide itu melayang-layang dibawa pikiran. Dalam cahaya kesadaran seperti ini, saya hanya bisa berjalan tegak ke depan, plus sebuah kata klise yang teramat sering saya kutip: IKHLAS. Seorang sahabat penyiar di radio Female Jakarta, mengirim SMS: ‘Tugas ini memang berat, tapi dengan sayap-sayap cinta dan keikhlasan, Anda akan bisa menyelesaikannya’. Entah bagaimana Anda bisa menarik manfaat dari kejadian ini, namun bagi saya ini adalah sebuah momentum besar untuk melakukan perenungan dalam keheningan. Lama sempat saya bertanya pada sang keheningan, apa pesan-pesan yang mau dihadirkan di balik semua ini. Rupanya, sebuah ide lama muncul di kepala: ‘tidak sombong ketika di atas, tidak bersedih tatkala di bawah, itulah kesederhanaan kehidupan yang amat mencerahkan’. Ternyata saya diingatkan lagi akan pentingnya kembali ke azas yang paling dasar : ‘tidak sombong ketika di atas, tidak bersedih tatkala di bawah’. Siapa saja meresapi prinsip terakhir secara amat mendalam, pikirannya bersinar terang benderang. Tidak saja bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi siapa saja yang berada di dekatnya. Mirip dengan matahari yang menyinari alam semesta, demikianlah pikiran yang sudah berakar dalam pada kesederhanan kehidupan tadi. Persoalannya kemudian, bagaimana menanamkan semua ini ke dalam akar-akar kesadaran. Masih belajar dari matahari, ada satu ciri menarik matahari yang layak direnungkan dalam hal ini. Matahari mendalami sekali apa yang disebut seorang guru Yoga sebagai the art of letting go. Seni membiarkan semuanya berlalu secara alami. Lihatlah matahari, ia senantiasa menjalankan tugasnya. Seperti mengajarkan ke kita setiap hari, tugas kita hanya melaksanakan tugas. Sisanya, membiarkan semuanya berjalan melaui hukum-hukum alami. Sayangnya, kita manusia kerap serakah. Ketika sedang di atas, ingin agar kedudukan di atas ini bertahan selamanya. Tatkala di bawah memohon ke Tuhan agar semuanya cepat berlalu. Keserakahan macam inilah yang menjadi musuhnya kejernihan dan pencerahan. Bercermin dari sini, kalau banyak orang menghabiskan hampir semua waktunya dengan tangan mengepal (baca: mempertahankan apa yang ada di tangan dan berjuang untuk selalu mendapat), mungkin ada saatnya untuk membuka tangan. Bukan untuk membuang-buang apa yang sudah kita miliki, melainkan merelakan dan mengikhlaskan alam bekerja dengan rumusan-rumusannya sendiri. Ada yang mengartikannya dengan sikap pasrah yang pasif. Tentu saja ini perlu diluruskan. Sebab the art of letting go terletak pada sektor hasil, bukan dalam usaha. Menyangkut usaha, tidak ada pilihan lain kecuali berusaha sekuat tenaga. Begitu ia sudah dilakukan secara maksimal, bukalah tangan, biarkan sang alam bekerja dalam hukum-hukumnya sendiri. Ada tidak sedikit orang dan sahabat – terutama yang suka ngotot terhadap kehidupan – yang ragu, akankah cara hidup demikian bisa membuahkan hasil atau tidak. Tentu saja tergantung pada apa yang kita sebut dengan hasil. Kalau pengertian tentang hasil adalah materi yang banyak dalam jangka pendek, keraguan tadi bisa dimaklumi. Apa lagi kalau tidak perduli sama sekali pada dampak-dampak jangka panjang. Cuman kalau ukuran hasilnya adalah kedamaian dalam jangka panjang, baik ke dalam maupun ke luar, cara-cara seperti ini layak untuk dipertimbangkan. Kehidupan Anda adalah pilihan Anda sendiri. Kemana Anda berbelok adalah hak Anda sendiri. Dengan tidak ada maksud membelokkan Anda, apa lagi memaksa Anda untuk ikut saya, kehidupan saya ditandai oleh banyak sekali monumen rasa syukur. Dari yang besar sampai yang kecil. Dan setiap menoleh ke jalan-jalan di belakang, hampir setiap belokan isinya adalah monumen rasa syukur. Dan jika ada yang bertanya, apa kendaraan yang saya gunakan, ya itu tadi, saya sedang mendidik diri untuk tidak sombong ketika di atas, dan tidak bersedih tatkala di bawah. Sebagaimana roda berjalan, bukankah tidak ada yang namanya keadaan permanen untuk senantiasa di atas?. Lagian, kalau sudah ikut lentur berputar bersama sang roda, bukankah di atas dan di bawah sama indah dan nikmatnya? ~ Penundaan adalah penghambat
kualitas hidup, jika kita menginginkan kualitas hidup yang baik maka kita harus
bisa mulai. Kapan kita harus mulai? SEKARANG. Karena cara terbaik untuk memulai
adalah mulai. ~
TERBANG DENGAN SAYAP KEBEBASAN oleh: I Gede
Prama
Belasan tahun yang lalu, ketika Jaddu Krishnamurti mengetuk pintu kehidupan saya melalui ide provokatif tentang Freedom From The Known, ada bagian-bagian tertentu dari bangunan hidup ini yang berguncang. Bagaimana tidak berguncang, setelah puluhan tahun menghabiskan banyak waktu dan tenaga duduk di sekolah. Ratusan ulangan dan ujian sudah menyita demikian banyak keringat. Jutaan kejadian lewat membawa judul “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Ribuan jam telah hilang hanya untuk membaca buku, jurnal, majalah, harian, menonton tv, vcd dan masih banyak lagi sumber pengetahuan yang lain. Tiba-tiba ada ajakan dari Krishnamurti untuk membebaskan diri segera dari semua hal yang telah diketahui.
Hanya karena ketika itu umur masih muda, dorongan-dorongan mesin “kehebatan” masih menderu-deru, dan sumber motivasi berkarya yang paling banyak ketika itu adalah kekaguman orang lain, jadilah karya Krishnamurti tadi bahan-bahan yang membuat tulisan dan pembicaraan tampak hebat baju luarnya. Sayangnya, di dalamnya kosong melompong. Mirip dengan tong kosong, ketika dibunyikan memang nyaring bunyinya. Sayangnya, ketika dibuka bagian dalamnya. Yang tersisa hanyalah bukan apa-apa.
Mungkin itu yang disebut banyak sahabat bijak dengan perjalanan belajar. Sebagian orang memang mesti melalui tangga-tangga kesombongan yang memalukan. Sebagian malah melalui tangga-tangga kebodohan yang menyakitkan. Dan begitu semua ongkos belajar tadi dibayar, ada pintu-pintu kejernihan yang terbuka dengan sendirinya. Ada guru-guru kebijaksanaan yang mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Ada udara-udara segar keindahan yang masuk melalui lobang-lobang hidung. Demikian juga dengan makanan, semuanya seperti serba enak dan menyehatkan.
Menoleh ke tangga-tangga belajar masa lalu yang demikian memalukan, ada bagian dari diri ini yang tersenyum malu, ada juga bagian lain yang bersyukur. Sebab, ada rangkaian kesombongan yang sudah lewat. Diganti dengan tumpukan pelajaran penting yang membuat gunungan-gunungan kebijakan tambah tinggi.
Dulu, ide tentang membebaskan diri dari segala hal yang diketahui, memang berwajah pemberontakan. Maklum, kaca mata anak muda yang melihatnya memang suka memberontak. Sekarang, ketika kaca matanya sudah diganti dengan kaca mata lain, ide tadi sangat membebaskan. Ia lebih membebaskan dari pintu penjara manapun. Kalau pintu penjara hanya bisa membebaskan badan manusia, dan belum tentu pikiran dan jiwanya. Freedom from the known membebaskan ketiga-tiganya. Seperti malaikat bersayap yang datang dari langit, tiba-tiba ia menyambar dan membawa manusia terbang tingg-tinggi. Dan ketika di atas membekali manusia dengan sayap-sayap kokoh.
Tersentuh oleh kemampuan membebaskan yang demikian mengagumkan inilah, kemudian ada ketekunan untuk menghapus secara perlahan hal-hal yang pernah dicatat dalam memori. Menseleksi pengetahuan dan pengalaman yang ada. Mendudukkan semuanya sebatas sebagai pembantu yang duduk di bawah. Kemudian, berjalan secara perlahan ke depan dengan beban memori yang semakin sedikit.
Coba perhatikan sahabat-sahabat yang mudah kena stress. Atau mereka yang mudah sekali menambah musuh. Atau mereka yang merasa tidak pernah menemukan kebahagiaan. Atau yang paling parah ditimpa penyakit ini itu. Hampir semuanya tidak saja tidak bebas, tetapi juga terbelenggu oleh apa-apa yang mereka ketahui. Ada kejadian-kejadian masa lalu yang membuat perjalanan jadi amat berat. Ada pengetahuan masa lalu yang membuat ukuran dan kriteria di kepala, kemudian membuat hobi menghakimi jadi tambah subur. Dan ujung-ujungnya apa lagi kalau bukan musuh yang bertambah banyak. Ada rangkaian pengalaman yang membuahkan banyak kesedihan, kemudian membuat pemiliknya hidup dari satu penyesalan ke penyesalan yang lain.
Sehingga dalam totalitas, jadilah manusia seperti berjalan dengan beban gendongan yang demikian beratnya. Atau seperti kereta yang menarik demikian banyak gerbong yang tidak perlu. Tidak saja berat, susah berjalan, menghasilkan banyak stress dan penyakit, yang paling penting gagal terbang tinggi-tinggi dalam kehidupan.
Disinari oleh cahaya kejernihan seperti inilah, Krishnamurti seperti hadir kembali dalam pintu kehidupan, mengetuk dan berbisik: sudah saatnya terbang! Entah ada atau tidak orang yang terketuk oleh Krishnamurti. Yang jelas, apapun kejadian yang telah lewat, manusia manapun tidak bisa kembali untuk memperbaikinya. Berhandai-handai seolah-olah bisa melakukan sesuatu yang lebih baik di masa lalu, hanya akan memperpanjang daftar penyesalan. Neale Donald Walsch penulis Conversation with God yang jernih itu pernah menulis: semuanya sudah sempurna !!!
Demikian juga dengan pengetahuan dan pengalaman. Ia tidak lebih dari sekadar jembatan-jembatan pemahaman. Sebagaimana jembatan yang sebenarnya, begitu ia berhasil dilewati tidak ada pilihan lain terkecuali meninggalkannya di belakang. Mengingat-ingat serta menghafal pengetahuan secara berlebihan, atau menyimpan rapi pengalaman (baik maupun buruk) dalam kotak memori, mirip dengan memeluk jembatan erat-erat. Kalau kemudian perjalanan terhenti di jembatan, itu adalah harga yang harus dibayar.
Perjalanan hidup memang pilihan sekaligus hak masing-masing orang. Saya sudah lama belajar untuk berhenti menghakimi. Dalam perjalanan belajar berhenti menghakimi ini, ada yang berbisik dari dalam sini: mari kita terbang! Adakah sidang pembaca yang mau ikut? ***Orang yang percaya diri bukan karena
dia hebat, tetapi karena niatnya baik.
|
||||||||||
|
|